Karena melihat dia bermurung-murung seolah menjadi beban psikologis bagiku.Namun masalahnya…Prima itu anak tiriku, yang seharusnya kuanggap sebagai anakku sendiri. Bokep Jepang Saya…saya ingin menyayangi Bunda lebih daripada sayangnya anak kepada ibunya.” Aku tersenyum. Tanpa keraguan lagi, ketika Prima tampak baru pulang kuliah, kupanggil ia ke ruang depan. Maka kutarik lengannya sambil berkata,
“Duduk lagilah di sini. “Iya.” Lalu aku melangkah menuju kamarku.Tanpa mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Mukanya tetap disembunyikan di antara kedua lututku. Doain biar bisa lolos ke grand final yaaa….!”
“Iya, iya…bunda doain…,” sahutku sambil tersenyum,
“Terus kalau jadi juara, hadiahnya apa ?”
“Nggak tau. Katakanlah usaha suami baruku itu segala dikerjakan sendiri. Kuperiksa isi laptop itu. Lalu terdengar suaranya bergetar,
“Terima kasih Bunda…terima kasih….”
“Tapi seperti bunda bilang berkali-kali tadi…semua ini harus dirahasiakan, ya sayang,” kataku sambil mencolek-colek bibir dan hidung anak tiriku yang tampan rupawan itu. Dalam kaget kututupi sepasang payudaraku dengan kedua tanganku.




















