Iamenyenggol kepala juniorku. Bokep SMA Masih melongo.Itu jendelanya dirapetin dikit.., katanya lagi.Ini..? Betulbetul keras. Ya, seseorang toh dapat saja lupa padasesuatu, juga pada sapu tangan. Aku duduk di tepi dipan. Bayar arisan.Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Ah, kini iamalah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Laluasyik membuka tabloid. Ya nggak apaapa, katanya menjawab telepon.Siapa Mbak..? Pijitan turun ke perut. Tapi tidak apaapatoh tipuan ini membimbingku ke alam lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Dari iramanya bukan sedangberjalan. Tapi ia masihberjongkok di bawahku.Yang ini atau yang itu..? Itu artinya iatidak mau diganggu. Sambil menjawab telepon di kursi iamenunggingkan pantatnya.Ya sekarang Sayang..! Wanita setengah baya itu merenggangkanbibirnya, ia terengahengah, ia menikmati dengan mataterpejam.Mbak Wien telepon.., suara wanita muda dari ruangsebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawabtelepon.Ngapaian sih di situ..?




















