Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Bokep Indo Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Bicara apa? Ke bawah lagi: Turun. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Garis setrikaannya masih terlihat. Mobil melaju. Agar kejadian kemarin terulang. Lho, salon kan tempat umum.




















