“Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Bokeb Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku? Hati ini menjadi luruh. Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Tapi Abi kan manusia biasa. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.“Gimana nggak nangis!




















