Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Bokep Ojol Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Hap. Wajahku mulai panas. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Aku masih mematung. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Hitam. Aku mengikutinya. Di mana? Aku tahu di mana ruangannya. Satu dua, satu dua. Ia cukup lama bermain-main di perut. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Dari perut turun ke paha. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.Dari atas: Turun. Ia malah melengos. Atau mau gunting? Aku duduk di belakang, tempat favorit. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior.




















