Ia masih menatapku tanpa berkata apapun. Ia seolah tak memperdulikanku, menolehkan kepalanya ke sisi yang lain. Bokep Family Ia melepaskan tangannya. Ia lalu mengulurkan lengannya dan mengelus pipiku dengan jemarinya. Ketika kuhampiri, ia tersenyum padaku. Ia menggelinjang saat kumemasukkan jari tengahku ke liangnya. Lonjakan-lonjakan jantungku membuat mataku terpejam. Kupejamkan mataku dan mendesah saat jemarinya menemukan batang kemaluanku yang menegang. Di sini. “Kamu bisa menikmatinya, selama kau mau,” kudengar ia berkata. Kuangkat tubuhku ke atasnya, dengan sebelah kaki menopang di sofa, dan sebelah lagi menopang di lantai. “U-uh. Aku terbangun dengan tubuh tertekuk, telanjang dan pegal, mendapati dirinya tak ada di sampingku. Jangan dulu…aahhkk…”
“Shiitt !!” erangku memaki, lalu melepaskan tubuhku dari pelukannya. “Pilihan yang bagus,” ucapku tersenyum. “Hey !” seruku. “Kasar,” bisiknya. Aku mengambil tempat satu sekat kursi dari tempat ia duduk. Kesadaranku sudah nyaris hilang. Mau memaafkanku?” Ia menatap mataku lama.




















