“Udah, cukup. Bokeb Timo memberinya sinyal untuk bergantian.Budi berhenti dan menghampiri Timo. Aku dan Budi tertawa melihatnya. Dia membuka pintu dan masuk tanpa menutupnya lagi. Dia mengambil tangan kiriku dan menempatkannya pada kemaluannya. Melihat kita berdua, Budi kembali ke dalam kamar, menutup pintu.Aku bergegas melepas tanganku dari Timo dan berdiri hendak menyusul Budi, tapi Timo menghentikanku. Tangan kirinya mengocok kontolnya sendiri, dan lidahnya menjilati ketiakku dengan ganas. Terlihat Timo sudah terlelap, begitu saja dalam keadaan telanjang bulat. Apa boleh buat, rahasia sudah bocor. Bukan, paman sama keponakan, pikirku sambil mengerutkan dahi, berpura- pura seakan pertanyaan Edwin ngga masuk akal.Anehnya mereka berdua, Timo dan Edwin, seakan tidak melihat aku tadi mengerutkan dahi, mengacuhkan ekspresiku begitu saja.




















